Halaman

Selasa, 13 Desember 2011

HAMA PENYAKIT TANAMAN

Serangan hama pada tanaman adalah masalah yang selalu dihadapi. Serangannya bahkan bisa mencapai 90% dari keseluruhan tanaman yang berada pada suatu lahan. Karena itu, pengetahuan tentang hama dan penyakit ini sangat penting artinya bagi orang-orang yang berkecimpung di
bidang ini.

Serangan hama terhadap tanaman terutama disebabkan oleh hewan dari filum Arthopoda. Di antaranya golongan serangga. Jenis ini merupakan musuh utama terbesar pada tanaman buah-buahan. Hampir 75% dari jumlah binatang yang hidup berasal dari golongan ini. Dari jumlah tersebut sebagian merupakan hama pada banyak tanaman buah-buahan di Indonesia. Selain serangga, hama lainnya yang juga sangat mengganggu adalah dad filum Chordata, seperti kera, babi hutan, tikus, burung, dan kalong; Annelids, seperti nematoda, dan filum Molluscs, yakni keluarga siput.

Penyakit pada tanaman, biasanya disebabkan oleh gangguan jasad hidup yang bersifat parasit, seperti cendawan, bakteri, dan virus, atau karena gangguan fisiologis. Bila terjangkit penyakit, maka terjadi perubahan pada seluruh atau sebagian organ tanaman. Dan hal ini akan mengganggu kegiatan fisiologis sehari-hari.

Hama Tanaman Pada Buah-Buahan
1. Bush berulat dan rontok

Gejala Pertama :
Terlihat adanya titik nods hitam atau benjolan pada kulit buah. Nods hitam itu terkadang tidak langsung terlihat, seakan buah yang dihasilkan tetap mulus. Namun bila buah tersebut dibelah, akan tampak belatung atau larva. Bintik hitam itu merupakan bekas tusukan sekaligus tempat peletakan telur. Telur ini, yang kemudian berubah menjadi larva„akan menggerogoti daging buah. Akibatnya, buah bisa menjadi busuk dan rontok.

Tanaman yang diserang :
Belimbing, jambu air, jambu biji, jeruk, nangka, cempedak, mangga, pisang, semangka, dan melon.

Penyebab :
Lalat buah yang tergolong keluarga Tephridae. Beberapa genus dari keluarga ini yang sangat berpotensi sebagai hama penting adalah Ceratitis, Anastrepha, Dacus, dan Rhagoletis. Di Indonesia, Dacus spp merupakan genus lalat buah yang potensial sebagai perusak tanaman hortikultura. Jenisnya tak kurang dari 30-40 spesies. Tiap spesies bisa menyerang beberapa macam tanaman buah-buahan.

Lalat ini tertarik oleh wama kuning, aroma, atau ekstraksi ester dan asam organik yang keluar dad buah-buahan menjelang masak. Dengan demikian lalat buah betina sebagai pengganggu utama, umumnya menyerang buah-buahan saat musim buah tiba.

Pengendalian :
Melakukan sanitasi kebun, pembungkusan buah, pengasapan kebun, pengendalian secara kimia menggunakan insektisida dan pemakaian perangkap yang diisi dengan pheromone tiruan, seperti metil eugenol.

Gejala Kedua :
Pads permukaan buah terlihat gejala kerusakan, berupa bercak cokelat sampai hitam berukuran kecil sampai besar. Selain itu ads pula gejala lainnya cacat pada kulit buah, berlubang, berpuru, bahkan terkadang seluruh isi daging buah hampir habis, berkeriput, dan tidak mulus. Sering juga tampak tepung gerek yang membaluti buah dan getah cairan buah meleleh bergantungan. Terkadang pada permukaan luar buah atau bila buah dibuka terlihat larva atau belatung yang menggerogoti buah. Lama-kelamaan buah akan membusuk dan rontok. Gejala ini terjadi saat buah masih muda sampai menjelang masak.

Tanaman yang diserang :
Belimbing, alpukat, rambutan, pisang, mangga, semangka, melon, jeruk, jambu biji, dan sirsak.

Penyebab :
Ulat atau larva penggerek buah, yang merupakan anggota clan bangsa atau ordo talat (Diptera), kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), kumbang (Coleoptera), sikada, kutu, dan wereng.

(Homoptera). Misalnya, Citipestris sagittiferella, Prays endocarpa (ulat penggerek buah jeruk); Nacoleia octasema (ulat penggerek pisang, rambutan, clan belimbing); Cryptorrynchus gravis (larva perusak buah mangga), Dichocrosis punctiferalis, Acrocercops cramerella (ulat penggerek buah rambutan). Berbeda dengan larva pada lalat buah yang menetas dan merusak di dalam buah, larva-larva clan ordo-ordo di atas menetas di luar buah, seperti pada kulit, tangkai buah, daun atau cabang sekitarnya. Baru setelah menetas, larva merusak bagian luar buah atau bahkan masuk ke dalam buah menggerogoti daging dan biji buah.

Pengendalian :
Sanitasi kebun, pembungkusan buah, penggunaan pestisida yang tepat.

2. Buah busukGejala Pertama:
Awalnya tampak bintik atau bercak kecil pada buah. Bintik ini kemudian membesar, clan juga terjadi perubahan warna clan hijau menjadi kuning kehijauan lalu kuning, cokelat atau hitam. Setelah itu timbul gejala nekrosa, yaitu matinya jaringan penyusun organ, kemudian buah menjadi busuk.

Busuk yang terjadi merupakan busuk lunak clan basah, yang ditandai dengan mudahnya buah ini pecah atau berlubang bila ditekan dengan jari. Pada akhir pembusukan, seluruh wujud buah menjadi busuk 'bonyok'. Pada permukaan buah sering pula timbul lapisan tepung massa spora. Pada suhu tinggi, warnanya menjadi hitam, terkadang berbau masam atau busuk menyengat.
Tanaman yang diserang : Anggur, jambu biji, melon, semangka, mangga, pepaya, clan sirsak.

Penyebab :
Cendawan clan bakled. Misalnya Phytophthora nicotianae (cendawan pada jambu biji, melon, clan semangka); Botrytis cinerea (cendawan pada anggur); Rhizopus stolonifer (cendawan pada buah mangga dan pepaya); Pythium aphanidermatum, PP ultimum (cendawan pada melon clan semangka); Pseudomonas mangifera indica (bakteri pembusuk buah mangga); Pseudomonas passitlorae (bakteri pembusuk pada buah sirsak); dan Erwinia sp (bakteri pembusuk mangga, apel, clan melon). Cendawan Phytophfhora palmivora pada buah durian.

Pengendalian :
Sanitasi kebun, pemberian fungisida dan bakterisida yang sesuai, pemusnahan buah yang terserang, clan pemangkasan untuk mengurangi kerimbunan/kelembapan.

Gejala Kedua :
Awalnya timbul bercakbercak lunak, cokelat muda pada buah. Kemudian bercak itu mengering clan mengeras. Konsistensi daging buah juga ikut berubah jadi kering clan mengeras. Bila Ware agak lembap, buah itu dapat dilapisi massa spora. Kondisi busuk keras clan kering dapat terjadi pada ujung atau pangkal buah saja. Umumnya berwama cokelat sampai hitam. Buah yang busuk mati kering, mengeras, clan mengeriput ini disebut juga 'busuk mummi'.

Tanaman yang diserang :
Sawo, jambu biji, durian, srikaya, sirsak, jeruk, melon, clan semangka.

Penyebab :
Cendawan, bakteri, clan virus. Misalnya Phytophthora palmivora (cendawan pada buah sawo clan durian); Col/etotrichum gloesporoides (cendawan pada buah mangga); Botrydip/odia theobromae (cendawan pada srikaya dan sirsak); penyakit stubborn (virus pada buah jeruk); Pseudomonas /achrymans (bakteri pada buah semangka clan melon).

Pengendalian :
Sanitasi lahan, pemusnahan buah yang terserang, pemberian fungisida dan bakterisida yang sesuai, clan mengurangi kerimbunan pohon dengan pemangkasan.

3. Buah rusak dan rontok

Gejala Pertama:
Pada bagian luar buah terdapat lubang-lubang kecil sebesar ujung jarum. Cairan buah berkurang, bahkan relatif habis. Buah yang terserang wamanya menjadi tidak sempuma. Misalnya pada jeruk terdapat wama keperakan di kulitnya. Semakin parah kulit berubah menjadi bersisik. Selain itu, pada beberapa buah terdapat bagian yang memar, atau tertutupi lapisan putih seperti(kutu dompolan perusak buah jeruk); Othreis fu/lonica (ngengat perusak buah mangga dan jeruk); Cryptorrhynchus gravis (kumbang penggerek buah mangga). Hama tersebut menyerang ketika tahap nimfa maupun dewasa dengan cara mengisap cairan buah. Akibatnya buah akan gugur.

Gugurnya buah bisa juga disebabkan lubang bekas tusukan dimasuki lagi oleh pengganggu lain, seperti cendawan, lalat buah, clan lain-lain.

Pengendalian :
Pemusnahan buahbuah yang terserang dan menggunakan pestisida kontak.

Gejala Kedua:
Pada buah yang rontok tampak bekas gigitan di beberapz bagian. Bentuk buah tidak lagi utuh, melainkan ada bagian yang memperlihatkan luka terkerat atau terpatuk sebagian atau cenderung habis. Buah yang rusak umumnya relatif telah masak atau menjelang masak.

Tanaman yang diserang :
Mangga, durian, papaya, pisang, jambu air, jambu biji, dan rambutan.

Penyebab :
Beberapa jenis hama dari keluarga kelelawar (Chiroptera), pengerat (Rodentia), pemakan daging (Carnivora), clan burung (aves). Contohnya Pteropus edulis (codot), PP vampyrus (kalong); Callosciurus notatus, C. nigrovittatus (bajing); Paradoxuros hermaphroditus (musang); burung jalak (Sturnus vulgaris); kutilang (Carpodacus mexicanus), dan murai (Turdus migrator).

Pengendalian :
Pemasangan perangkap beracun, memburu, membungkus buah, clan khusus burung dapat dikendalikan dengan cara mengusir atau menakut-nakutinya dengan bunyibunyian.

Gejala ketiga:
Buah gugur sebelum masak. Warna tidak menarik, kulit buah yang terkena sinar matahari berwama kuning, sedangkan yang terlindung hijau Jeruk yang terserang kutu dompolan (Ptanococcus crtri). Buah gugur prematur akibat cendawan kapas, kadang-kadang hitam, clan sebagian besar busuk. Buah tersebut pertumbuhannya menjadi tidak normal, clan kemudian akan gugur.

Tanaman yang diserang :
Jeruk, mangga, belimbing, jambu biji, buah nona, pisang, anggur, apel, clan nangka.

Penyebab :
Beberapa jenis hama dari bangsa atau ordo tungau (Acarina), kepik clan kutu (Hemiptera), kupu-kupu clan ngengat (Lepidoptera), serta kumbang (Coleoptera). Contoh hama dari jenis-jenis tersebut adalah Eriophyes sheldoni, Tetranychus urticae (tungau perusak buah jeruk); Phynchocoris poseidon (kepik penusuk buah jeruk); Planococcus citti pucat. Sebenamya gejala serangan diawali dengan membesamya pangkal tangkai buah, kemudian busuk kering, dan akhirnya buah gugur.

Tanaman yang diserang :
Jeruk

Penyebab :
Cendawan Fusarium sp, Colletotrichum sp, clan Altemaria sp.

Pengendalian :
Sanitasi kebun, pemberian fungisida untuk mengendalikan cendawan tersebut.

4. Buah berkudisGejala :
Berawal dari bercak kecil jemih pada buah, bercak secara perlahan berkembang menjadi semacam kutil-kutil kecil berwama kuning. Kelak kutil-kutil ini menjadi cokelat kelabu, keras, clan bergabus. Pada jeruk, kutil tersebut bersatu dan membentuk kerak yang keras. Buah-buah muda yang sakit akan terhambat pertumbuhannya, atau menjadi tidak normal. Bentuknya tidak teratur, penuh kudis, clan terkadang kerdil. Pada buah lainnya, bercak-bercak berkembang menjadi semacam kalus kemudian pecah Cendawan Sphaceloma tawcetti menyebabkan kudis pada buah. berbentuk kudis.

Tanaman yang diserang :
Jeruk, alpukat, mangga, papaya, clan anggur.

Penyebab :
Cendawan Elsinoe sp atau Sphaceloma sp. Cendawan ini terkenal sebagai penyebab penyakit kudis pada bermacam-macam tanaman. Beberapa di antaranya Sphaceloma fawcetti (jeruk); Sphaceloma ampelina (anggur); Sphaceloma perseae (alpukat), Sphaceloma papayae (papaya). Stroma (tubuh) cendawan Elsinoe itu berkumpul dalam bintik-bintik kudis pada buah. Di dalam stroma itu terdapat spora clan konidia bening, yang berperan dalam penyebaran penyakit, mudah sekali terbawa oleh angin, air hujan atau embun, clan juga serangga, yang dapat menularkan penyakit ke tanaman sehat lainnya. Penyakit kudis ini terutama menyerang di musim hujan, saat cuaca lembap.

Pengendalian :
Pemusnahan seluruh bagian tanaman yang terserang, mengatur agar bunga keluar sebelum musim hujan, pemberian fungisida yang tepat.

Gejala 2:
Pada buah apel, bercak kudis berbatas tegas, bundar, clan hijau kecokelatan. Dengan bertambahnya umur, warna bercak menjadi lebih tua - seoerti kudis, dan sering pecah. Buah yang sakit berat bentuknya berubah dan rontok sebelum waktunya. Jika infeksi terjadi menjelang masaknya buah, dapat menyebabkan timbulnya bercak-bercak kecil, hitam, halus, dan mengkilap. Pada semangka clan melon, bercak melekuk dalam, clan di tepinya ada cairan yang mengering seperti karet.

Tanaman yang diserang :
Apel, semangka, clan melon.

Penyebab :
Cendawan Venturia sp atau Cladosporium sp. Yaitu Cladosporium cucumerinum (pada buah semangka clan melon), clan Venturia inaequalis (pada buah apel).

Pengendalian :
Pemberian fungisida yang sesuai, dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang.
Hama Tanaman Pada Bunga
Bunga rusak dan rontok

Gejala Pertama :
Fisik bunga, yaitu tangkai, malai, kelopak, bakal buah, benang sari, atau kuncup bunga, atau gabungan dari beberapa bagian bunga mengalami gangguan. Misalnya, bentuk kelopak yang tidak utuh akibat dimakan atau digerek hama; tangkai, malai, dan kuncup bunga menjadi layu dan kering, serta rusaknya tunas bunga. Lama-kelamaan bunga menjadi layu dan kering. Bila serangan semakin menghebat, bunga akan rontok dan tidak bisa jadi buah.

Tanaman yang diserang :Mangga, belimbing, jeruk, rambutan, dan apel.

Penyebab :
Beberapa jenis hama yang tergolong bangsa atau ordo kepik dan kutu (Hemiptera), kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), kumbang (Coleoptera), serta lalat (Diptera). Beberapa contoh hama dari jenis-jenis ini adalah Idiocerus niveosparsus (perusak bunga mangga); Prays nephelomina (penggerek bunga jeruk); Rhynchaenus mangiferae (larvanya merusak bunga mangga); Aphis sp (kutu perusak bunga belimbing); Popillia biguttata (kumbang perusak bunga jeruk); dan Carpolonchae fillers (larva memakan kuncup bunga, bakal buah, atau benangsari jeruk).

Pengendalian :
Dengan penggunaan pestisida kontak.

Gejala Kedua :
Terjadi perubahan warns pada permukaan bunga menjadi keputihputihan atau kelabu. Bunga yang diserang menjadi kering, keras, dan berguguran. Bila serangan belum atau kurang hebat, bunga masih dapat meneruskan pertumbuhannya, namun bentuknya menjadi tidak sempurna lagi.

Tanaman yang diserang :
Mangga, apel, rambutan, murbei, dan jeruk.

Penyebab :

Cendawan, umumnya jenis Erysiphaceae. Cendawan ini merupakan parasit obligat penyebab penyakit tepung. Beberapa jenis yang termasuk dalam cendawan ini adalah Podospharae leucotricha (cendawan pada apel); Erysiphe cichoraecearum (cendawan pada mangga); dan Oidium sp (cendawan pada rambutan, jeruk). Cendawan tersebut terinfeksi ke dalam jaringan bunga di sekitar lapisan epidermis. Hal ini dilakukan oleh haustoria yang terbentuk pada miselia. Konidia yang terbentuk mudah terpencar oleh angin.

Pengendalian :
Sanitasi kebun, pengembusan tepung belerang, pemberian fungisida untuk mencegah dan mengendalikan penyakit.

Gejala Ketiga :
Bunga muncul lebih cepat, di luar musim, dan lebih lebat. Namun ukuran bunga lebih kecil dan terjadi kelainan bentuk. Bunga-bunga ini akan gugur lebih cepat dan hanya beberapa saja yang berhasil menjadi buah.

Tanaman yang diserang :
Jeruk

Penyebab :
Virus dari golongan Tristeza, dan virus penyebab leaf curl. Virus Tristeza dapat menyebar ke tanamann lain melalui tunas mata tempel dan melalui kutu daun. Jika mata tempel diambil dari jenis yang terinfeksi, dan batang bawah yang digunakan tidak toleran, maka bibit tersebut jugs akan ikut terserang. Beberapa serangga yang dapat menularkan virus ini adalah Toxopteracitricida dan Aphis spiraecola.

Pengendalian :
Pembongkaran terhadap tanaman yang telah terserang, menggunakan bibit bebas virus, dan pengendalian vektor virus Tristeza dengan pestisida.

Hama Tanaman Pada Batang1. Batang mengeluarkan blendok/gum/getahGejala Pertama :
Mula-mula kulit pada pangkal batang berwarna gelap kebasahbasahan dan mengeluarkan blendok encer, seringkali di dekat permukaan tanah. Penyakit ini akan meluas sehingga melingkari pangkal batang. Jaringan kulit pada batang akan berubah warnanya Batang durian dibagian pangkal berwarna gelap kebasah-basahan dan rengeluarkan blendok encer, akibat sorangan cendawan Cendawan Botryodiplodia theobromae menyebabkan timbulnya blendok pada batangjeruk, menjadi lebih gelap. Bagian yang sakit ini dapat meluas ke dalam sampai ke kayu dan tidak mempunyai Batas yang teratur. Setelah beberapa lama, kulit mati dan mengelupas, sehingga terjadilah luka yang lebar. Pohon yang terserang akhimya akan mati.

Tanaman yang terserang :
Durian dan jeruk

Penyebab :
Beberapa spesies Phytophtora, seperti PP palmivora (pada batang durian dan jeruk); PP nicotianae, PP citrophthora (pada batang jeruk) menjadi penyakit utama pada batang. Phytophtora tersebar di tanah melalui spora yang aktif dalam air. Karena itu perkembangannya sangat cepat pada keadaan lembap. Infeksi terjadi melalui luka-luka.

Pengendalian :
Pemakaian jenis tanaman yang tahan terhadap Phytophtora, pengaturan drainase yang baik untuk mencegah kelebihan air, pemangkasan bagian yang sakit, clan pemberian obat penutup luka.

Gejala Kedua :
Keluarnya blendok (gum) yang berwarna kuning dari batang atau cabang-cabang yang besar, seringkali dimulai di sekitar ketiak cabang. Terkadang serangan terbatas pada jalur-jalur yang sempit. Bersamaan dengan keringnya gum, kulit yang terserang berangsur kering dengan meninggalkan bekas berwarna hitam. Bila penyakit berkembang terus, cendawan akan masuk ke dalam kayu. Pada tingkat ini ia berkembang pesat, merusak kambium, sehingga cabang akhirnya mati. Kayu yang terserang berubah warna menjadi keabu-abuan. Pada stadium selanjutnya timbul piknidia cendawan. Gejala ini menyebabkan kulit menjadi kering, pecah, clan mengelupas.

Tanaman yang diserang :Jeruk clan mangga

Penyebab :
Serangan cendawan Botryodiplodia theobromae. Cendawan ini termasuk jenis polifag, yang dapat menyerang bermacam-macam tumbuhan, sehingga sumber infeksi selalu ada. Parasit ini masuk ke dalam tanaman melalui luka mekanis akibat pemangkasan, serangga, atau penyakit busa. Cendawan yang dapat membentuk piknidium ini menghasilkan spora-spora pada luka yang telah lama, kemudian menyebar melalui percikan air hujan ke bagian tanaman lainnya.

Pengendalian :
Penutupan luka bekas pangkasan dengan obat penutup luka, seperti karbolineum-parafin, pemotongan cabang-cabang yang terinfeksi, clan penyemprotan fungisida pada kulit.

2. Batang berlubang dan keropos.Gejala :
Pada batang bagian luar terdapat lubang-lubang kecil. Seringkali dahan kedapatan patah, clan setelah dikupas kulitnya terlihat bagian yang keropos. Di bagian kayunya (di bawah kulit) ada lubang memanjang mirip terowongan. Terkadang meninggalkan debu atau kotoran di lubang terowongan. Akibatnya jaringan kayu akan mengering clan kemudian mati. Pada tingkat serangan yang hebat, aliran dalam pembuluh kayu akan terputus karena tersumbat. Daun clan cabang kemudian akan layu clan tanaman mati.

Tanaman yang diserang :
Durian, akan menaruh telurnya di celah celah hasil gigitan. Namun dapat pula ia bertelur pada luka akibat serangan cendawan. Beberapa hari kemudian telur akan menetas menjadi larva. Larva inilah yang selanjutnya menggerek batang clan masuk sampai ke bagian tengah batang, membentuk lubang terowongan. Akibatnya jaringan kayu akan mengering dan kemudian mati. Pada serangan yang hebat, aliran dalam pembuluh kayu terputus karena tersumbat. Daun dan cabang kemudian akan layu clan tanaman mati.

Pengendalian :
Penutupan lubang gerekan dengan pasak kayu/bambu atau kain serta kapas yang sudah dicelup dengan insektisida, penyemprotan lubang dengan insektisida, pemberian perangkap berupa sebatang kayu di dekat pohon agar kumbang menaruh telur pada batang perangkap tersebut.

3. Batang berkerak merah jambu

Gejala :

Mula-mula pada kulit batang tanaman yang terserang terdapat benang-benang mengkilap seperti sarangga Jamur upas pada batang jeruk. Kemudian terbentuk bintik-bintik putih pada permukaan kulit. Selanjutnya timbul kerak berwarna merah jambu atau oranye yang khas. Pada serangan yang berat, batang atau cabang di bagian dalam menjadi busuk. Cendawan tersebut lalu membentuk bintik-bintik berwarna merah bata. Apabila penyakit sampai melingkari cabang atau batang, aliran air clan nutrisi tanaman terhambat clan semua bagian tanaman di atas bagian yang terserang akan mati.

Tanaman yang terserang :Anggur, apel, durian, nangka, jeruk, mangga, rambutan, lengkeng, clan belimbing.

Penyebab :
Jamur upas, Upasia salmonicolor. Cendawan ini menyerang dalam berbagai tingkat stadium. Pada stadium sarang laba-laba, terbentuk miselium mengkilap. Pada tingkatan ini cendawan hanya berkembang di permukaan, belum masuk ke jaringan kulit. Kemudian pada stadium bongkol mulai timbul bintik-bintik putih. Infeksi menjalar ke dalam kulit. Pada stadium corticium, terbentuk kerak berwarna oranye berisi basidium yang menghasilkan basidiospora. Pada tahap ini cendawan telah masuk ke dalam kulit, bahkan kulit sudah membusuk. Tingkatan terakhir, stadium necator. Cendawan membentuk bintik berwarna merah bata yang merupakan sporodokium cendawan yang membentuk banyak konidium. Saat musim kemarau, walaupun tidak berkembang, tetapi cendawan dapat bertahan secara laten. Selanjutnya ia akan berkembang kembali pada musim hujan. Diduga penyebarannya melalui basidiospora yang dipencz rkan oleh angin, dan konidium pada stadium necator oleh percikan air.

Pengendalian :

Menghindari penanaman bersama dua atau lebih tanaman sumber infeksi di sekitar kebun, memotong cabang yang terinfeksi, penggunaan fungisida, pemilihan lokasi dan jenis tanaman yang tepat.

4. Kanker pada batang

Gejala Pertama:

Bagian kulit luar batang dan cabang tanaman pecah atau terkelupas dan rontok, dan terbentuk kanker. Di bagian kulit tersebut keluar getah yang mengering menjadi tepung putih. Kondisi ini merupakan infeksi awal dari timbulnya penyakit ini. Kanker dapat meluas ke seluruh batang. Akibatnya tanaman merana, layu, dan kemudian mati. Bagian kulit yang sakit berwarna kelabu, terdapat bintik-bintik hitam, dan berbatas jelas.

Tanaman yang diserang :Apel, alpukat, jeruk, jambu biji, dan manggis.

Gejala awal kanker batang.
Penyebab:
Cendawan Botryosphaeria ribis. Cendawan ini mempertahankan diri selama musim kering sebagai badan buah pada batang yang hidup maupun yang mati. Saat hujan turun, badan buah itu mengeluarkan spora yang lalu tersebar ke bagian tanaman yang rentan. Infeksi B. ribis dibantu oleh setiap keadaan yang memperlemah tanaman, seperti kekeringan dan kekurangan hara tanaman.

Pengendalian :
Pemangkasan ranting-ranting sakit untuk mengurangi ' sumber infeksi, pemeliharaan tanaman dengan sebaik-baiknya agar kondisi tanaman yang sehat tetap terjaga, serta penyemprotan fungisida.

Gejala Kedua:
Pada pohon yang terjangkit kanker terdapat luka berwarna cokelat kehitaman dan mengeluarkan blendok. Bagian yang sakit menjadi busuk kering. Pada bagian dalam jaringan yang sakit terdapat lingkaran gelap berwarna cokelat.

Selanjutnya lingkaran tersebut bisa melebar sampai ke kayu tanpa batas yang teratur. Pohon yang sakit akhirnya mati.

Tanaman yang diserang :Durian, mangga, dan jeruk.

Penyebab :

Fusarium sp, Phytophthora palmivora, dan Botrydiplodia theobromae

Pengendalian :
Sanitasi kebun, pengaturan drainase yang baik untuk mencegah kelebihan air, pemangkasan bagian yang sakit, dan kemudian mengobati bagian yang terbuka dengan obat penutup luka.

Hama Tanaman Pada Daun
1. Daun berlubang

Gejala Pertama :

Serangannya terjadi pada daun dan tunas muda. Bahkan daun tua, daun muda, tunas daun yang bakal muncul, tunas bunga, dan ranting-ranting muda dapat 'tersikat' habis. Pada pinggiran daun yang terserang sampai bagian tengah berlubang dan rusak. Jika tidak segera ditanggulangi, daun tanaman akan habis sama sekali. Terkadang kondisi pohon hampir 'gundul'. Akhirnya tanaman akan malas berbuah atau mati merana. Biasanya di tanah terdapat kotoran bulat berwarna hijau atau hitam. Kotoran ini bisa dilihat pada pagi hari.

Tanaman yang diserang :Alpukat, jambu air, mangga, jeruk, dan rambutan.

Penyebab :
Ulat pemakan daun dari jenis Microlepidoptera dan Rhopalocera. Misalnya ulat pagoda (Pagodiellaa hekmeyen), ulat kepala bagong (Carea angulata), ulat papilio (Papilio memnon) pemangsa daun jeruk; ulatparasa (Parasa lepida) dan ulat Dasychira inclusa menyerang daun jambu air; ulat kupu gajah (Attacus atlas) menyerang mangga dan jeruk; ulat kipat (Cricula trifenestrata) menyerang daun alpukat, jambu biji, dan mangga; ulat keket (Ploneta diducta) menyerang daun rambutan. Ulat-ulat ini umumnya menyerang pada scat kemarau, dan juga ketika tanaman sedang menumbuhkan tunasnya.

Pengendalian :
Pemangkasan bagian tanaman yang terserang, mengurangi daun tanaman yang rimbun, dan penyemprotan insektisida yang sesuai.

Gejala Kedua :
Umumnya terjadi pada daun-daun tua pada ranting-ranting bagian bawah, dengan meninggalkan lubanglubang bekas gerekan. Bagian tepi lubanglubang daun tersebut berwarna cokelat keabu-abuan. Apabila serangan parch, daun dapat rontok dan tanaman menjadi kerdil.

Tanaman yang diserang :Jeruk

Penyebab :

Kumbang belalai (Maleuterpes dentipes). Kumbang ini menyukai tempat-tempat yang teduh dan lembap. Populasi tertinggi umumnya terjadi pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Pada slang hari, kumbang yang tergolong famili Curculionidae ini aktif di bawah pohon atau di dalam tanah, sedangkan pada sore had is aktif menggerek daun-daun tua. Selain daun, kumbang ini juga menyerang bagian tanaman lainnya, seperti akar, ranting, dan buah.

Pengendalian :
Pemusnahan bagian tanaman yang telah terserang, menjaga agar lingkungan perakaran tidak terlalu lembap, serta penggunaan insektisida yang sesuai.

2. Daun berselubung tepung putihGejala :
Awalnya terbentuk bercak-bercak kecil bertepung, berwarna putih atau putih kelabu. Umumnya sebagian besar berada di sisi bawah daun. Bercakbercak ini kemudian meluas, sehingga terbentuklah lapisan putih pada permukaan daun. Dalam cuaca kering daun-daun yang sakit menggulung ke atas, atau berkerut. Daun-daun tersebut dapat berubah bentuk dan warnanya. Lapisan tepung berubah warna menjadi kelabu dan akhirnya berwarna gelap. Daun lama-kelamaan kering dan rontok. Tanaman yang sakit tampak layu dan kerdil.

Tanaman yang diserang :Apel, anggur, jeruk, pepaya, rambutan, durian, dan mangga.

Penyebab :
Cendawan dari Didium spp. Tiap spesies cendawan ini memiliki jenis tanaman kesukaan yang berbeda. Misalnya, Oidium farinosum (pada daun apel), Oidium tuckeri (pada daun anggur), Oidium tingitanium (pada daun jeruk), Oidium caricae (pada daun pepaya), dan Oidium nephelii (pada daun rambutan). Oidium adalah cendawan parasit pada ' jaringan tumbuhan yang hidup. Konidiumnya dipencarkan oleh angin. Perkembangan 'penyakit tepung' ini terjadi selama periode-periode kering dengan kelembapan tinggi. Kondisi tersebut balk untuk perkecambahan konidium. Penyakit berkembang pesat apabila terjadi hari-hari kering selama musim penghujan.

Pengendalian :
Pengurangan sumber infeksi dengan membuang bagian tanaman yang terserang berat dan penyemprotan bagian-bagian yang sakit dengan fungisida yang sesuai.

3. Daun tumbuh tidak normalGejala Pertama :
Pada helaian daun yang terserang terjadi perubahan bentuk, mengecil, bergelombang, mengeriting, memilin, atau menggulung; umumnya menyerang daun-daun muda dan tunas. Gejala tersebut akan membekas sampai daun tumbuh dewasa. Pada tunas dan daun muda yang terserang tampak koloni kutu berwarna hitam, cokelat, hijau atau putih, tergantung spesies kutu daun yang menyerangnya. Pada permukaan daun biasanya terdapat lapisan embun madu dalam jumlah berlebihan, sehingga merangsang cendawan jelaga tumbuh di atasnya. Di samping itu, racun dari menimbulkan gejala kerdil, deformasi, dan terbentuk puru pada helaian daun.
Tanaman yang diserang : Jeruk, durian, jambu air, jambu biji, dan jambu bol.

Penyebab :
Kutu-kutu kecil dari subordo Phytophthires, famili Psyllidae, Aleyrodidae, Aphididae, dan Coccoidea. Beberapa jenis hama tersebut yang mengganggu tanaman adalah Diaphorina citri (kutu loncat jeruk), Megatrioza vitiensis (kutu pada jambu air dan jambu bol), Dialeurodes citri (lalat putih pada jeruk), Aleurocanthus woglumi (lalat putih pada jambu biji dan mangga), Aphis gossypii (kutu pada jeruk), Myzus persicae (kutu daun jeruk), dan Coccus viridis (kutu sisik pada jeruk, mangga, jambu air dan jambu biji). Kutu-kutu tersebut hidup pada tunas dan daun muda untuk mengisap cairannya. Mereka mengeluarkan embun madu yang dapat menarik perhatian cendawan dan semut. Jumlah telur mencapai ratusan.

Pengendalian :
Pemusnahan bagian tanaman yang terserang dengan cara pembakaran, pemangkasan, dan pemberian insektisida sistemik.

Gejala Kedua :
Daun muda yang terserang meninggalkan bekas seperti alur melingkar transparan atau keperak-perakan. Serangan berat terjadi pada tanaman yang sedang bertunas, mengakibatkan tunas dan daun muda berkerut, menggulung, kering, terlihat garis-garis berlekuk-lekuk putih, mudah rontok, dan tumbuh tidak normal.

Tanaman yang diserang :Jeruk.

Penyebab :
Ulat peliang daun jeruk, Phyllocnistis citrella. Kupu-kupu dewasa meletakkan telur secara terpencar di permukaan bawah daun. Telur menetas setelah 4 hari. Larva kemudian masuk ke dalam epidermis daun clan menggerek jaringan dengan meninggalkan bekas liang berkelok-kelok berwarna putih.

Pengendalian :

Pemusnahan daundaun yang terserang dengan care membakar, memangkas, atau membenamkannya dalam tanah. Juga dengan penggunaan insektisida yang sesuai.

Hama Tanaman Pada Akar
Busuk akar

Gejala :
Mula-mula daun-daun paling ujung berukuran lebih kecil, berwarna kuning, clan tunas kurang segar. Cabangcabang yang terserang menjadi kering clan biasanya tidak terjadi pertumbuhan baru. Bila akar terserang parah, seluruh tanaman menjadi kering dengan cepat. Pada perakaran utama, luka memanjang tampak sangat jelas dengan pusat cokelat gelap dan cokelat muda. Pada akar sekunder, luka-luka terlihat kurang jelas cenderung tumbuh rootlet baru pada bagian tersebut. Akar-akar muda kulitnya mudah mengelupas sehingga terlihat noda abu-abu gelap pada kayu.

Tanaman yang diserang :
Alpukat, jeruk, apel.

Penyebab :
Cendawan Phytophthora sp, seperti PP cactorum (cendawan pada akar apel clan alpukat); PP nicotianae (cendawan pada jeruk).

Pengendalian :
Pengolahan clan pengairan yang baik, menghindari penggunaan batang bawah yang peka terhadap penyakit ini, mensterilkan tanah pembibitan dengan fungisida yang sesuai, clan pada kulit akar yang terserang dilakukan pengelupasan dengan pisau.

BUDIDAYA KACANG PANJANG BERSAMA KONCO TANI

BUDIDAYA KACANG PANJANG

SYARAT PERTUMBUHAN
Tanaman tumbuh baik pada tanah Latosol / lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20-30 derajat Celcius, iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m dpl.

PEMBIBITAN
- Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: penampilan bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg.
- Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan.

PENGOLAHAN MEDIA TANAM
- Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak hingga tanah menjadi gembur.
- Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm
- Lakukan pengapuran jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dolomit sebanyak 1-2 ton/ha dan campurkan secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm
- Siramkan air secara merata di atas bedengan


TEKNIK PENANAMAN
- Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
- Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai
- Benih direndam  selama 0,5 jam lalu tiriskan
- Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur.

PENYULAMAN
Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.

PENYIANGAN
Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored.

PEMANGKASAN / PEREMPELAN
Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan bunga.

PEMUPUKAN
Dosis pupuk makro sebagai berikut:

Waktu
Dosis Pupuk Makro (per ha)
Urea (kg) SP-36 (kg) KCl (kg)
Dasar
50
75
25
Umur 45 hari
50
25
75
TOTAL
100
100
100


PENGAIRAN
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT a. Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)
Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan TRAJET 25 EC
b. Kutu daun (Aphis cracivora Koch)
Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan PHOSCORMITE 18 EC

c. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, Semprot TRAJET 25 EC

d. Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)
Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.

e. Ulat bunga ( Maruca testualis)
Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan PHOSCORMITE 18 EC
f. Penyakit Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum )
Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan SAAF 75 WP dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.

g. Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV).
Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.

h. Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.)
Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.

i. Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum )
Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakanSAAF 75 WP pada awal tanam.

PANEN DAN PASCA PENEN
- Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol
- Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan
- Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam.
- Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu disortasi
- Polong kacang panjang diikat dengan bobot maksimal 1 kg dan siap dipasarkan.

BUDIDAYA TOMAT BERSAMA KONCO TANI

BUDIDAYA TOMAT

Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani
PT. CATUR AGRODAYA MANDIRI  berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek K-3), agar petani dapat berkompetisi di era perdagangan bebas.

A. FASE PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh>
- Tomat dapat ditanam di dataran rendah/dataran tinggi
- Tanahnya gembur, porus dan subur, tanah liat yang sedikit mengandung pasir dan pH antara 5 - 6
- Curah hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan yang tinggi dapat menghambat persarian.
- Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman dan ini berbahaya bagi tanaman

2. Pola Tanam
- Tanaman yang dianjurkan adalah jagung, padi, sorghum, kubis dan kacang-kacangan
- Dianjurkan tanam sistem tumpang sari atau tanaman sela untuk memberikan keadaan yang kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu

3. Penyiapan Lahan
- Pilih lahan gembur dan subur yang sebelumnya tidak ditanami tomat, cabai, terong, tembakau dan kentang .
- Untuk mengurangi nematoda dalam tanah genangilah tanah dengan air selama dua minggu
- Bila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam
- Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal
- Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air.
- Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan, aduk dan ratakan dengan tanah
- Atau jika pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di atas bedengan.
- Jika pakai Mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari
- Biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam
- Buat lubang tanam dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm

4. Pemilihan Bibit
- Pilih varietas tahan dan jenis Hybryda ( F1 Hybryd )
- Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan
- Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum tanam atau pagi harinya (agar lembab)

B. FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)
- Siapkan media tanam yang merupakan campuran tanah dan pupuk kandang 25 - 30 kg
- Masukkan dalam polibag plastik atau contongan daun pisang atau kelapa
- Sebarlah benih secara merata atau masukkan satu per satu dalam polibag
- Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit yang baik, tegar dan sehat dipindahkan dalam bumbunan daun pisang atau dikepeli yang berisi campuran media tanam
- Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)

C. FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )
- Bedengan sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu
- Bibit siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6
- Penanaman sore hari
- Buka polibag plastik
- Benamkan bibit secara dangkal pada batas pangkal batang dan ditimbun dengan tanah di sekitarnya
- Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru, dibersihkan  lalu bibit ditanam
- Pengairan dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), hati-hati jangan sampai berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit
- Amati hama seperti ulat tanah dan ulat grayak. Jika ada serangan semprot dengan TRAJET 25 EC
- Amati penyakit seperti penyakit layu Fusarium atau bakteri dan busuk daun , kendalikan dengan menyemprot SAAF 75 WP. Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus sp.) dan tungau (Tetranichus sp.) dengan menyemprot 
PHOSCORMITE 18 EC
- Pasang ajir sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat

D. FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)
- Jika tanpa mulsa, penyiangan dan pembubunan pada umur 28 HST bersamaan penggemburan dan pemberian pupuk susulan diikuti pengguludan tanaman
- Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman (1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah dan siram dengan air
- Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl (± 5 gr), berikan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan sedalam ± 1 cm kemudian ditutup tanah dan siram dengan air.
- Bila umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk Urea dan KCl lagi (7 gram). Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh ( ± 7 cm).
- Jika pakai Mulsa tidak perlu penyiangan dan pembubunan serta pupuk susulan diberikan dengan cara dikocorkan
- Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari
- Amati hama dan penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu dan virus, jika terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam
- Tanaman yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir dan setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi agar batang tomat berdiri tegak.
- Pengikatan jangan terlalu erat dengan model angka 8, sehingga tidak terjadi gesekan antara batang dengan ajir yang dapat menimbulkan luka.

E. FASE GENERATIF (30 - 80 HST)
1. Pengelolaan Tanaman
- Jika tanpa mulsa penyiangan dan pembubunan kedua dilakukan umur 45-50 hari
- Untuk merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan perempelan tunas-tunas tidak produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga tinggal 1-3 cabang utama / tanaman
- Perempelan sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat kering dengan cara; ujung tunas dipegang dengan tangan bersih lalu digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas putus. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting, sedangkan tanaman yang tingginya terbatas perempelan harus hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel sehingga tanaman tidak terlalu pendek
- Ketinggian tanaman dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah mencapai 5-7 buah

2. Pengamatan Hama dan Penyakit
- Ulat buah (Helicoperva armigera dan Heliothis sp.). Gejala buah berlubang dan kotoran menumpuk dalam buah yang terserang. Lakukan pengumpulan dan pemusnahan buah tomat terserang, semprot dengan TRAJET 25 EC
- Lalat buah (Brachtocera atau Dacus sp.).Gejala buah busuk karena terserang jamur dan bila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna putih. - - Bersifat agravator, yaitu sebagai vektornya penyakit jamur, bakteri dan Drosophilla sp. Kumpulkan dan bakar buah terserang, gunakan perangkap lalat buah jantan (dapat dicampur insektisida)
- Busuk daun (Phytopthora infestans), bercak daun dan buah (Alternaria solani) serta busuk buah antraknose (Colletotrichum coccodes). Jika ada serangan semprot dengan SAAF 75 WP
- Busuk ujung buah. Ujung buah tampak lingkaran hitam dan busuk. Ini gejala kekurangan Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.

F. FASE PANEN & PASCA PANEN (80 - 130 HST)
- Panen pada umur 90-100 HST dengan ciri; kulit buah berubah dari warna hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua mengering, batang menguning, pada pagi atau sore hari disaat cuaca cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus. Pemuntiran buah dilakukan satu-persatu dan dipilih buah yang siap petik. Masukkan keranjang dan letakkan di tempat yang teduh
- Interval pemetikan 2-3 hari sekali.
- Supaya tahan lama, tidak cepat busuk dan tidak mudah memar, buah tomat yang akan dikonsumsi segar dipanen setengah matang
- Wadah yang baik untuk pengangkutan adalah peti-peti kayu dengan papan bercelah dan jangan dibanting
- Waspadai penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan dan musnahkan
- Buah tomat yang telah dipetik, dibersihkan, disortasi dan di packing lalu diangkut siap untuk konsumsi.

BUDIDAYA TIMUN

BUDIDAYA MENTIMUN

I. PENDAHULUAN
Produksi mentimun di Indonesia masih sangat rendah padahal potensinya masih bisa ditingkatkan. Untuk itu PT. CATUR AGRODAYA MANDIRI  berupaya turut membantu meningkatkan produksi secara Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).


II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 - 26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000 - 1.200 mdpl.

2.2. Media Tanam
Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.


III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan

.- Rendam benih dalam  air hangat (2cc/l) selama 30 menit

-. Peram selama 12 jam.
- Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polibag sedalam 0,5-1 cm
.. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari.
.. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun

3.2. Pengolahan Media Tanam
a. Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan.
b. Berikan kalsit/dolomit (pH tanah <6>3.3. Penanaman
- Siram bibit dalam polibag dengan air
- Keluarkan bibit bersama medianya dari polibag.
- Tanamkan bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar batang.

3.4. Pemeliharaan Tanaman
- Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik.
- Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).
- Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman.
- Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.
- Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.

3.5. Pemupukan:


Waktu

Pupuk (kg)

TSP

Urea

KCL

Pukan

Pupuk Dasar

150

150

150

20.000

3-5 hst

100

150

100

10 hst

250

300

100

Setelah berbunga


250

250

Setelah Panen I


100

100









3.6. Hama dan Penyakit
3.6.1. Hama
a. Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).
Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggal tulangnya. Pengendalian : TRAJET 25 EC

b. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.IMIDAGOLD 200 EC

c. Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.)
Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian :PHOSCORMITE 18 EC


d. Kutu daun (Aphis gossypii Clover)
Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun keriput, kerititing dan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian :  PHOSCORMITE 18 EC


3.6.2. Penyakit
a. Busuk daun (Downy mildew)
Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 - 22°C dan berembun atau berkabut. Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat dan busuk. Pengendalian :

b. Penyakit tepung (Powdery mildew )
Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musim kemarau dengan kelemaban tinggi. Gejala : permukaan daun dan batang muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering. Pengendalian : SAAF 75 WP

c. Antraknose
Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. Gejala: bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian : NAZOLE 50 SC

d. Bercak daun bersudut
Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan. Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. Pengendalian : SAAF 75 WP

e. Virus
Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM; Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. Gejala : daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung, tanaman kerdil. Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan PHOSCORMITE 18 EC , mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan Cucurbitaceae.

f. Kudis (Scab)
Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi pada buah mentimun muda. Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jika mengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yang bergabus. Pengendalian : SAAF 75 WP

g. Busuk buah
Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. Gejala : (1) Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; (2) Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut; (3) Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudah pecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 - 7 derajat C. Dan pemberian SAAF 75 WP sebelum tanam.


3.7. Panen
3.7.1. Ciri dan Umur Panen
Buah mentimun muda lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam, mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah matang.

3.7.2. Cara Panen
Buah dipanen di pagi hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam.

3.7.3.Periode Panen

Mentimun sayur dipanen 5 - 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang dikehendaki.

BUDIDAYA CABAI BERSAMA KONCO TANI

BUDIDAYA CABAI

A. PENDAHULUAN
Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.
PT. Catur Agrodaya Mandiri berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.

B. FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
· Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2
· Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
· Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2
· Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm

2. Benih
· Kebutuhan per 1000 m2 1 - 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30
· Biji direndam dengan air hangat kemudian diperam semalam.

C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
1. Persiapan Persemaian

· Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
· Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.

2. Penyemaian
· Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring
· Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban

3. Pengamatan Hama & Penyakit
a. Penyakit

· Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi seprot dengan SAAF 75 WP  10 gr /17 liter air.
· Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.
· Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut dan dibakar,

b. H a m a
· Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan
pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan Phoscormite 18 EC
· Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan
Phoscormite 18 EC  untuk mengurangi penyebaran.
· Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip



D. FASE TANAM
1. Pemilihan Bibit
· Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus
· Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari)

2. Cara Tanam
· Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.
· Plastik polibag dilepas

3. Pengamatan Hama
· Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan IMIDAGOLD 200EC
· Ulat Grayak ( Spodoptera litura & S. exigua ),
Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan Brocel -D 28 EC dan COUNTER 50/1,8 SP
· Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal. atau semprot dengan UNISHIELD 250 EC

E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)
1. Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanaman atau penggenangan (dilep) jika dirasa kering.
2. Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl = (250 : 250 : 250) gr dalam 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 - 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dengan perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl  = (500 : 250 : 250) gr dalam 50 liter air, dengan dosis 500 cc/lubang.
Kebutuhan total pupuk makro 1000 m2 :

Jenis Pupuk
1 - 4 minggu (kg)
5 - 12 minggu
(kg)
Urea
7
56
SP-36
7
28
KCl
7
28



F. FASE PANEN DAN PASCA PANEN
1. Pemanenan
· Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
· Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya

2. Cara panen :
· Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
· Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering
· Penyortiran dilakukan sejak di lahan
· Simpan ditempat yang teduh
3. Pengamatan Hama & Penyakit
· Kumpulkan dan musnahkan buah yang busuk / rusak

BUDIDAYA JAGUNG BERSAMA PT.Catur Agrodaya Mandiri

BUDIDAYA JAGUNG

I. PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. CATUR AGRODAYA MANDIRI berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl



III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Syarat benih
Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam air secukup nya semalam

B. Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

C. Pemupukan





Waktu


Dosis Pupuk Makro (per ha)



Urea (kg)

TSP (kg)

KCl (kg)

Perendaman benih
-

-
-


Pupuk dasar
120
80
25


2 minggu
-
-
-


Susulan I (3 minggu)
115

-
55


4 minggu
-
-
-


Susulan II (6minggu)
115
-
-



D. Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
a. Tumpang sari ( intercropping ),
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.

b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.

c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.

d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang).



E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

3. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

4. Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

F. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan Phoscormite 18 EC
b. Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot
Phoscormite 18 EC dan Counter 50/1,8 SP

2. Penyakit
a. Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) di semprot dengan SAAF 75 WP

b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3)
di semprot dengan SAAF 75 WP

c. Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4)
di semprot dengan SAAF 75 WP

d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam 
di semprot dengan SAAF 75 WP

e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2)
di semprot dengan SAAF 75 WP

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata .

G. Panen dan Pasca Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.

2. Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

3. Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.

4. Pengeringan
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.

5. Pemipilan

Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

6. Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.

BUDIDAYA PADI BERSAMA PT. Catur Agrodaya Mandiri

BUDIDAYA PADI

Produksi gabah padi di Indonesia rata-rata 4 - 5 ton/ha. PT. CATUR AGRODAYA MANDIRI berupaya membantu tercapainya ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi padi berdasarkan asas kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ).

SYARAT TUMBUH
Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur
19-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 - 7.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A.Benih
Dengan jarak tanam 25 x 25 cm per 1000 m2 sawah membutuhkan 1,5-3 kg. Jumlah ideal benih yang disebarkan sekitar 50-60 gr/m2. Perbandingan luas tanah untuk pembenihan dengan lahan tanam adalah 3 : 100, atau 1000 m2 sawah : 3,5 m2 pembibitan
B.Perendaman Benih
Benih direndam  air selama 6-12 jam. tiriskan dan masukkan karung goni, benih padi yang mengambang dibuang. Selanjutnya diperam menggunakan daun pisang atau dipendam di dalam tanah selama 1 - 2 malam hingga benih berkecambah serentak.
C.Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 3 - 5 cm. Setelah bibit berumur 7-10 hari dan 14-18 hari, dilakukan
penyemprotan SAAF75 WP Dengan dosis 20 CC/tangki.
D. Pemindahan benih
Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 21-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit.
F. Pemupukan
Pemupukan seperti pada tabel berikut, dosis pupuk sesuai dengan hasil panen yang diinginkan. Semua pupuk makro dicampur dan disebarkan merata ke lahan sesuai dosis.


TABEL PEMUPUKAN

Waktu Aplikasi
Jenis Pupuk
Olah Tanah (kg)
14 hari ( kg )
30 hari ( kg )
45 hari ( kg )
60 hari ( kg )
Urea
36,5
9
9
9
9
ZA
3,5
1
1
1
1
SP-36
6,5
1,5
1,5
1,5
1,5
KCl
20
5
5
5
5
Dolomit
13
3
3
3
3












Catatan : Dosis produksi padi 1,2 – 1,7 ton/ 1000 M2 Gabah Kering Panen

Waktu Aplikasi
Jenis Pupuk
Olah Tanah (kg)
10–14 hari ( kg )
25–28 hari ( kg )
42–45 hari ( kg )
Urea
12
6
6
6
SP-36
10
50
-
-
KCl
-
-
7
8
















Catatan : Dosis produksi padi 0,8 – 1,1 ton/ 1000 M2 Gabah Kering Panen
Waktu Aplikasi
Jenis Pupuk
Olah Tanah (kg)
10–14 hari ( kg )
25–28 hari ( kg )
42–45 hari ( kg )
Urea
10
4,5
4
4
SP-36
11,5
-
-
-
KCL
-
-
5
6,5
















Catatan : Dosis produksi padi 0,8 – 1,1 ton/ 1000 M2 Gabah Kering Panen



Cara Penggunaan SUPER NASA & POC NASA
1. Pemberian SUPER NASA dengan cara dilarutkan dalam air secukupnya kemudian disiramkan ( hanya disiramkan)
2. Jika dengan POC NASA dicampur air secukupnya bisa disiramkan atau disemprotkan.
3. Khusus SP-36 bisa dilarutkan SUPER NASA atau POC NASA, sedang pupuk makro lainnya disebar secara merata.
G. PENGOLAHAN LAHAN RINGAN
Dilakukan pada umur 20 HST, bertujuan untuk sirkulasi udara dalam tanah, yaitu membuang gas beracun dan menyerap oksigen.
H.PENYIANGAN
Penyiangan rumput-rumput liar seperti jajagoan, sunduk gangsir, teki dan eceng gondok dilakukan 3 kali umur 4 minggu, 35 dan 55.
I. PENGAIRAN
Penggenangan air dilakukan pada fase awal pertumbuhan, pembentukan anakan, pembungaan dan masa bunting. Sedangkan pengeringan hanya dilakukan pada fase sebelum bunting bertujuan menghentikan pembentukan anakan dan fase pemasakan biji untuk menyeragamkan dan mempercepat pemasakan biji.
J. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
· Hama putih (Nymphula depunctalis)
Gejala: menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi. Pengendalian: (1) pengaturan air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami, menggugurkan tabung daun; (2) menggunakan  Counter 50/1,8 SP dan DIMPO 400 SL· ·Padi Thrips (Thrips oryzae)
Gejala: daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi. Pengendalian: Counter 50/1,8 SP dan DIMPO 400 SL
· Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera) dan Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N. impicticep).
Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi dan dapat menularkan virus. Gejala: tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tanaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil. Pengendalian: (1) bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemprotan Counter 50/1,8 SP dan DIMPO 400 SL
· Walang sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang buah padi yang masak susu. Gejala buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan bulir padi berbintik-bintik hitam.
Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatankebersihan, mengumpulkan dan memusnahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik, laba-laba; (2) penyemprotan Counter 50/1,8 SP dan DIMPO 400 SL
· Kepik hijau (Nezara viridula)
Menyerang batang dan buah padi. Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan tanaman terganggu. Pengendalian: mengumpulkan dan memusnahkan telur-telurnya, penyemprotan Counter 50/1,8 SP dan DIMPO 400 SL
· Penggerek batang padi terdiri atas: penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata), kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu (Sesamia inferens). Menyerang batang dan pelepah daun. Gejala: pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut, daun mengering dan seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda disebut hama "sundep" dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut "beluk". Pengendalian: (1) menggunakan varitas tahan, meningkatkan kebersihan lingkungan, menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong mati, membakar jerami; (2) menggunakan Counter 50/1,8 SP dan DIMPO 400 SL
· Hama tikus (Rattus argentiventer)
Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah. Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman. Pengendalian: pergiliran tanaman, tanam serempak, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan RATOL 80 WP
· Burung
Menyerang menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan. Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.
· Penyakit Bercak daun coklat
Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae.
Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati. Pengendalian: (1) merendam benih di air hangat ,pemupukan berimbang, tanam padi tahan penyakit ini.
· Penyakit Blast
Penyebab: jamur Pyricularia oryzae. Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk.
Pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. Pengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandiri IR-48, IR-36, pemberian pupuk N di saat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir; (2) penyemprotan SAAF75 WP di awal tanam
· Busuk pelepah daun
Penyebab: jamur Rhizoctonia sp. Gejala: menyerang daun dan pelepah daun pada tanaman yang telah membentuk anakan. Menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit (2)penyemprotan SAAF75 WP  pada saat pembentukan anakan
· Penyakit Fusarium
Penyebab: jamur Fusarium moniliforme. Gejala: menyerang malai dan biji muda menjadi kecoklatan, daun terkulai, akar membusuk. Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, penyemprotan SAAF75 WP
·Penyakit kresek/hawar daun
Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae) Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati. Pengendalian: (1) menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan; (2) pengendalian diawal dengan penyemprotan SAAF75 WP
· Penyakit kerdil
Penyebab: virus ditularkan oleh wereng coklat Nilaparvata lugens. Gejala: menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning-kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil. Pengendalian: sulit dilakukan, usaha pencegahan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada mengendalikan vector dengan BVR atau PESTONA.
· Penyakit tungro
Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng hijau Nephotettix impicticeps. Gejala: menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna, daun kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda, malai kecil dan tidak berisi. Pengendalian: menanam padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42 dan mengendalikan vektor virus dengan BVR.

K. PANEN DAN PASCA PANEN
·Panen dilakukan jika butir gabah 80 % menguning dan tangkainya menunduk

· Alat yang digunakan ketam atau sabit
· Setelah panen segera dirontokkan malainya dengan perontok mesin atau tenaga manusia
· Usahakan kehilangan hasil panen seminimal mungkin
Setelah dirontokkan diayaki (Jawa : ditapeni)
· Dilakukan pengeringan dengan sinar matahari 2-3 hari
· Setelah kering lalu digiling yaitu pemisahan gabah dari kulit bijinya.
· Beras siap dikonsumsi.